PERASAAN YANG MENDAHULUI PERNIKAHAN

image

Perasaan yang Mendahului Pernikahan

Oleh:Mohammad Fauzil Adhim

Dia adalah Khadijah. Seorang wanita terhormat, bangsawan terpandang dari kalangan Quraisy, klan elit di Makkah. Ia berasal dari keluarga yang mempunyai kedudukan dan kemuliaan. Orang di masanya, pasti tahu siapa Khadijah. Mereka mengenal keagungan, kebesaran dan keutamaannya. Wanita pengusaha yang mandiri dan penuh pengorbanan.Kalau kemudian ia menikah dengan Muhammad, pemuda miskin yang yatim piatu itu, bukan karena tak ada orang yang meminangnya. Telah banyak yang datang kepadanya, dan sebanyak itulah ia tidak bersedia menjadi istri. Padahal mereka adalah orang-orang kaya, orang-orang berpengaruh, orang-orang terhormat,orang-orang dari kalangan bangsawan dan orang-orang yang sangat diperhitungkan di antara kaumnya.Ia memilih Muhammad karena ia menyukai. Ia memilih Muhammad karena ia tahu akhlak Muhammad yang tinggi dan perilakunya halus.

Kepada Muhammad ia mengatakan, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.”Ketika simpati itu ada, dan perasannya menguat, Khadijah mulai berketetapan bahwa Muhammadlah yang paling berhak untuk menjadi suaminya. Sebaik-baik orang yang pantas untuk didampingi dengan kesetiaan penuh dan kecintaan yang dalam adalah Muhammad.Ketika perasaan itu menguat dan ketetapan sudah bulat, ia menyuruh pembantu laki-lakinya Maisarah untuk memperhatikan gerak-gerik Muhammad. Ia mengirim utusan kepada Muhammad untuk memintanya berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijahdalam suatu kafilah. Khadijah menyertakan Maisarah dalam kafilah itu agar dapat memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya dari dekat. Sehingga Khadijah memperoleh keterangan dari orang yang benar-benar mengetahui, tidak menurut kabar burung yang belum jelas kebenarannya.

Khadijah kemudian memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Muhammad. Ia berharap Muhammad akan menangapi pikiran dan perasaannya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan hal itu pada diri Muhammad. Ia ingin menjajagi bagaimana sesungguhnya pikiran dan perasaan Muhammad. Karena itu, Khadijah kemudian meminta temannya, Nafisah binti Munayyah, menemui Muhammad.Di sejumlah buku sirah, kita dapati nukilan percakapan antara Nafisah binti Munayyah dengan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu belum menjadi rasul. Saya tidak berani mengutipkan di sini karena percakapan tersebut tidak memiliki sandaran riwayat yang kuat. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan hal-hal pokok terkait peristiwa ini, yakni atas perantaraan Nafisah binti Munayyah, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berkenan menikah dengan Khadijah al-Kubra. Ketika Muhammad tidak memiliki harta yang cukup untuk disebut besar.Tepat pada waktu yang telah ditetapkan bersama oleh keluarga darikedua belah fihak, berangkatlah Muhammad bersama beberapa orang paman beliau, dipimpin oleh Abu Thalib, untuk secara resmi menyampaikan lamaran kepada Khadijah. Ketika masanya tiba,  sejarah pun mencatat peristiwa akad nikah yang paling barakah. Tak ada yang lebih barakah dari pernikahan itu sesudahnya.Begitu kisah pernikahan Siti Khadijah dan Muhammad Rasulullah Saw. Ada perasaan yang mendahului pada diri Khadijah karena terkesan oleh akhlaknya, kemudian diseriusi dengan usaha untuk mencapai pernikahan. Kelak dari pernikahan ini,lahir manusia-manusia suci yang dimuliakan Allah. Lahir Zainab yang memiliki putri Umamah. Lahir Fathimah yang dari rahim sucinya Allah mengaruniakan keturunan paling mulia, Al-Hasan dan Al-Husain.

Jadi, kalau suatu saat ada rasa simpati yang tumbuh kepada seorang ikhwan, tanyakanlah kesungguhan hati Anda. Jika perasaan itu terus mekar dan memantapkan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, periksalah akhlak dan agamanya. Anda bisa mencari seorang Maisarah yang dapat memperhatikan gerak-geriknya dari dekat, sehingga anda mendapatkan informasi mengenai akhlak, agama dan sikapnya dari orang yang memang mengetahui sendiri. Bukan dari cerita-cerita yang tak jelas sumbernya. Anda bisa mengingat kisah percakapan Umar dengan orangyang akan menyampaikan informasi mengenai seseorang.Kalau Anda telah mendapatkan informasi yang semakin meyakinkan Anda, kini saatnya Anda bisa mencari seorang Nafisah binti Munayyah untuk menjajagi perasaan dan pikiranorang yang Anda harapkan. Seorang wanita yang matang lebih bisa membicarakan masalah-masalah gerak hati wanita dan menyelami pikiran laki-laki. Apalagi kalau sudah mempunyai beberapa anak.
*** Ini merupakan nukilan dari tulisan lama yang tidak saya publikasikan. Saya tulis sekitar tahun 1996 atau 1997. Kadang terbetik keinginan untuk menerbitkan naskahkeseluruhan beserta bab lain, sebuah tulisan bertajuk Masih Ada Tempat untuk Cinta. Tapi rasanya saya sudah terlalu tua untuk bicara cinta.🙂

Semoga bermanfaat …

~ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ~

catatan priyatna*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s