Betapa dekat kebahagiaan itu…

image

Betapa dekat kebahagiaan itu…

bagi mereka yang menetapi do’a ini:

” ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻗَﻨِّﻌْــﻨِﻲْ ﺑِـﻤَﺎ ﺭَﺯَﻗْــــﺘَــﻨِﻲْ، ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ
ﻟِﻲْ ﻓِﻴْﻪِ، ﻭَﺍﺧْﻠُﻒْ ﻋَﻠَﻰ ﻛُـﻞِّ ﻏَﺎﺋِـﺒَﺔٍ ﻟِﻲْ
“ﺑِـﺨَﻴْﺮٍ
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah
(merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang
telah engkau rezeqikan kepadaku, dan
berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan
jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku
dengan yang lebih baik.”

Mengingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu
‘alaihi wa sallam, ” ﻗَﺪْ ﺃﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺃﺳْﻠَﻢَ ﻭَﺭُﺯِﻕُ ﻛَﻔَﺎ
ﻓًﺎ، ﻭَ ﻗَﻨَّﻌَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ Beruntunglah orang
yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang
sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh
Allah terhadap apa yang diberikan
kepadanya.” HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad
dan Al-Baghawi.

Betapa sederhanya kebahagiaan. Ingatlah
sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu
‘alaihi wa sallam bergurat pipinya karena alas
tidur kasar. Hari ini betapa banyak yang
memiliki tempat tidur mewah, tapi hampir-
hampir tak pernah ia rasai tidur yang nikmat.
Betapa berbeda.

Tengoklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam .
Betapa sederhana makannya. Tak menuntut
syarat yang berat, justru jadikan makan lebih
nikmat. Sungguh, ketika engkau tak
meninggikan syarat terhadap apa yang engkau
reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau
rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih
berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti
yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa
yang terlepas dari kita?
Maka do’a riwayat Al-Hakim (beliau
menshahihkannya) yang dicontohkan oleh
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini
merupakan kunci agar kita mampu bersikap
secara tepat terhadap dunia: qana’ah terhadap
rezeqi dari-Nya, barakah atas rezeqi yang
kita terima dan ganti yang lebih baik (bukan
lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari
kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat
jauh dari kebaikan.

Jika tiga hal ini ada pada kita, maka semoga
lisan kita mampu memanjatkan do’a yang
menyempurnakan pembersihan jiwa kita.
Semoga.
Do’a itu  (semoga kita dapat menghayati
sepenuh kesungguhan.) adalah:
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇﻧِّﻲ ﺃﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬَﻢِّ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﺰَﻥِ،ﻭَ
ﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَ ﺍﻟْﻜَﺴَﻞِ،ﻭَﺍﻟْﺒُﺨْﻞِ ﻭَ ﺍﻟْﺠُﺒْﻦِ،ﻭَﺿَﻠَﻊِ
ﺍﻟﺪَّﻳْﻦِ ﻭَ ﻏَﻠﺒَﺔِﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
(bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan,
(rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan
penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang
lain.”
Inilah do’a yang memohon pertolongan Allah
Ta’ala agar kita mampu mengalahkan hasrat
untuk mengistirahatkan badan di saat ada
kebaikan yang seharusnya kita kerjakan;
memohon kekuatan untuk TIDAK berpelit
dalam mengulurkan rezeki kepada orang lain;
serta kelapangan hati untuk memberi kan
jasa kita yang membawa kebaikan.
Maka, jika engkau berkeinginan untuk
berkelimpahan rezeki agar waktu istirahatmu
lebih banyak dan engkau dapat bersantai-
santai kapan pun engkau mau, sesungguhnya
engkau telah mengingkari do’a yang
dituntunkan oleh Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa
sallam ini. Dan jika engkau pergi ke sana
kemari untuk menyeru manusia agar
bersegera perkaya diri sehingga dapat
bermalas-malasan, sadarilah bahwa mereka
sedang mengajak manusia untuk menjauh dari
sunnah dan menghindar dari kebaikan.
Padahal bersama sunnah ada barakah.
Semoga kita terhindar dari ghurur
(terkelabui) disebabkan angan-angan kita
sendiri. Marilah kita memanjatkan do’a kepada
Allah Ta’ala:
” ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺤَﻖَّ ﺣَﻘّﺎً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﻟﺘِﺒَﺎﻋَﺔَ
ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑَﺎﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ ”
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar
itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan
untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami
bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah
kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Semoga kita tak terpedaya oleh persepsi kita
sendiri. Sungguh, kebenaran itu bukan
bergantung pada persepsi kita. Baik dan
buruk juga bukan bergantung kepada persepsi
kita. Bukan bergantung pada cara pandang
kita. Hari ini, ketika banyak manusia
menyerukan bahwa yang paling penting
adalah persepsi kita tentang sesuatu, marilah
kita ingat kembali do’a ini. Di masa yang
semakin jauh dari kehidupan Nabi shallaLlahu
‘alaihi wa sallam ini, semoga Allah Ta’ala
limpahi kita hidayah agar tidak mudah takjub
pada kebanyakan perkataan manusia yang
terlepas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-
Shahihah.
Lisan kita berdo’a. Hati kita berharap. Tapi,
apakah kita pun merenungkan maknanya?

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

catatan #꤀꤂꣓꤉ꣂ꤄꣘ꣂ™

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s