BAGAIMANA BISA AKU BERSEDIH,SEDANGKAN KASIH SAYANG ALLAH BEGITU LUAS

BAGAIMANA BISA AKU
BERSEDIH,SEDANGKAN KASIH
SAYANG ALLAH BEGITU LUAS
.
Seseorang pernah ditanya
mengapa hidupnya terlihat baik
dan dirinya seolah tak pernah
diliputi kesedihan, kemudian ia
menjawab :
.
“Bagaimana mungkin aku bisa
bersedih, sedangkan rahmat
Rabb ku amatlah luas.. Jikalau
saja ada sedikit kesedihan yang
aku rasakan, tidaklah sebanding
dengan semua nikmat juga kasih
sayang Rabb ku kepadaku.
.
Dengarlah, kebahagiaan
hanyalah bisa kau rasakan saat
kau membandingkan
kesedihanmu yang tak seberapa
dengan luasnya Rahmat dan
nikmat yang telah Allah berikan
kepadamu.
Maka hatimu akan lapang,
jiwamu akan tenang, hilanglah
kesedihan. Yang tersisa
hanyalah syukur dan yang
teringat dalam akal juga hatimu
adalah bagaimana syukurmu
terus bertambah, agar
bertambah pula lapang hati juga
bahagiamu.. ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ”
.
Allah Subhanahu Ta’ala dan
RasulNya shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyukai tafa’ul ﺍﻟﺘَّﻔَﺎﺅُﻝُ
(optimisme)
dan membenci tasya’um ﺍﻟﺘَّﺸَﺎﺅُﻡُ
(pesimisme). Optimisme dapat
ditumbuhkan dengan senantiasa
berhusnuzhzhan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan
dengan mempertinggi tawakkal
dalam kehidupan sehari-hari.
.
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﻠِﻴْﻤِﻲُّ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻌْﺠِﺒُﻪُ ﺍﻟْﻔَﺄْﻝُ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺘَّﺸَﺎﺅُﻡَ ﺳُﻮﺀُ ﻇَﻦِّ
ﺑِﻻﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﻻَﻰ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺳَﺒَﺐٍ ﻣُﺤَﻘَّﻖٍ ﻭَﺍﻟﺘَّﻔَﺎﺅُﻝُ
ﺣُﺴْﻦُ ﻇَﻦٍّ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻣَﺄْﻣُﻮﺭٌ ﺑِﺤُﺴْﻦِ ﺍﻟﻈَّﻦِّ
ﺑِﻻﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﻻَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﺎﻝٍ
.
Al-Halimi rahimahullah
mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam suka dengan optimisme,
karena pesimis merupakan
cermin persangkaan buruk
kepada Allah Ta’ala tanpa
alasan yang jelas.
Optimisme merupakan wujud
persangkaan yang baik
kepadaNya. Seorang mukmin
diperintahkan untuk
berprasangka baik kepada Allah
dalam setiap kondisi”. (Fathul
Bari, hadits no. 5755, bab Al-Fa’l)
.
َﻝﺎَﻗ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﺗَﻌَﻻَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻇَﻦِّ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﺑِﻲ …ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu berkata, “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Aku
sesuai dengan persangkaan
hambaKu terhadapku…” (HR.
Bukhari no. 7405)
.
ﻗَﻮْﻟُﻪُ (ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﻻَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻇَﻦِّ ﻋَﺒْﺪِﻱ
ﺑِﻲ) ﺃَﻱْ ﻗَﺎﺩِﺭٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺑِﻪِ ﻣَﺎ ﻇَﻦَّ ﺃَﻧِّﻲ
ﻋَﺎﻣِﻞٌ ﺑِﻪِ

Makna sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Allah
berfirman, “Aku menurut
persangkaan hambaKu
terhadapKu.” yakni : Allah
mampu berbuat sesuatu
(merealisasikan suatu
perbuatan) atas dasar
persangkaan hambaNya bahwa
Allah akan berbuat
demikian.” (Fathul Bari, hadits
no. 7405)

Catatan Priyatna™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s