Muhammad Rasulullah SAW

MUHAMMAD SURI TAULADAN SANG MUTIARA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA WA MAULANA MUHAMMAD..”

BACA-LAH dan RENUNGKAN-LAH…!

Rasulallah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, Beliau manusia mutiara yang memilih hidup sebagai jelata.
Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua Beliau sudah tidak punya makanan lagi.
Beliau menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri.
Panjang rumahnya 4,80 m, lebar 4,62 m.

Rasulallah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling dicintai Allah dan paling mencintai Allah.
Akan tetapi oleh Allah orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah.
Beliau bahkan dibiarkan oleh Allah sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dijamin Syurganya, tetapi Beliau selalu takut kepada Murka dan Azab Allah sehingga menangis di setiap sujudnya.

Sayyidina Umar bin Khaththab raddiyallahu ‘anhu menemui Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam di kamar Beliau.
Lalu sayyidina `Umar mendapati Rasulallah tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk, jejak tikar itu membekas di belikat Beliau.
Sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala Beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala Beliau.
Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang.
Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).

Air mata sayyidina ‘Umar meleleh.
Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi Ummat Islam itu.

Rasulallah melihat air mata ‘Umar yang berjatuhan, lalu Beliau bertanya:
“Apa yang membuat-mu menangis, wahai Ibnu Khaththab..?”

Sayyidina ‘Umar menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar:
“Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, melihat tikar ini membekas di belikat Anda, dan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda.. Sedagkan Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah..!”

Lalu Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan senyum tersungging di bibir Beliau:
“Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka..?”

‘Umar menjawab:
“Aku rela.”
(HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Dalam riwayat lain disebutkan,‘Umar berkata:
“Wahai Rasulallah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”

Lalu, Rasulullah menjawab dengan khusyuk dan merendah diri:
“Apa urusan-ku dengan dunia..? perumpama’an diri-ku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.”
(HR. At-Tirmidzi)

Dari Zaid bin Tsabit radiyallahu ‘anhu barkata:
“Anas bin Malik, pelayan Rasulallah pernah memperlihatkan kepada-ku tempat minum Rasulallah yang terbuat dari kayu keras yang dipatri dengan besi, dengan gelas kayu itu-lah Rasulallah minum air, perasan kurma, madu dan susu.”
(HR. At-Tarmidzi)

Sedangkan perabotan lain yang tampak adalah baju besi yang biasa dipakai saat Beliau perang.
Akan tetapi tak lama sebelum Beliau meninggal, baju itu digadaikan kepada seorang Yahudi dengan 30 sha’ gandum untuk memberi makan saat berperang. Seperti yang diceritakan Aisyah, ketika Beliau wafat, baju itu berada di tangan Yahudi dan belum ditebusnya.

Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata:
“Tidak pernah Rasulallah duduk menghadapi meja makan yang penuh hidangan, sampai Beliau wafat. Dan tidak pernah beliau makan roti enak dan lembut sampai wafat”
(HR. Imam Al-Bukhari)

Kehidupan sehari-hari di rumah Rasulallah dipenuhi dengan kedamaian, ketentraman, dan keharmonisan, walau-pun rumah itu jauh dari kemewahan dan keberadaan.

Subhanallah…
“Allahumma shallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama”
(Yaa Allah, semoga Rahmat dan Salam senantiasa melimpah kepada Junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, serta para Sahabat)
Aamiin yaa Rabbil`aalamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s