Cinta Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Jatuh cinta pada seorang
wanita, mungkin semua pria
pernah mengalaminya. Rasanya
hampir tak terkatakan. Ada
kalanya cinta itu
membahagiakan, tapi tak
jarang juga menyakitkan. Imam
Ibnul Qayyim Al Jauziyah
membagi cinta kepada wanita
ini dalam tiga bentuk.

1]. Mencintai wanita dengan
maksud ketaatan dan Taqarrub
kepada Allah.
Ini merupakan cinta kepada
istri dan budak wanita yang
dimiliki. Merupakan cinta yang
bermanfaat dan dapat
mengantarkan kepada tujuan
yang disyariatkan Allah dan
pernikahan, dapat menahan
pandangan mata dan hati
untuk melirik wanita selain
istrinya. Orang yang mencintai
semacam ini dipuji di sisi Allah
dan di tengah manusia.

2]. Cinta yang dibenci Allah dan
menjauhkan dari Rahmat-Nya.
Cinta yang hanya
memperturutkan hawa nafsu.
Demi cinta ini, seorang hamba
mau melanggar Syariat Allah.
Cinta ini merupakan yang
paling berbahaya bagi hamba,
yang dapat mengancam agama
dan dunianya. Sapa yang
memiliki cinta ini, dia hina di
hadapan Allah, dia orang yang
hatinya paling jauh dari Allah,
dan cinta ini merupakan tabir
penghalang antara dirinya
dengan Allah. Untuk
mengobatinya adalah dengan
memohon per tolongan kepada
Allah yang membolak-balikkan
hati, bersungguh-sungguh
untuk kembali kepada-Nya.
Sibuk mengingat-Nya,
menyibukkan diri dan
mengganti cinta itu dengan
cinta hanya pada-Nya.
Memikirkan derita dan
sengsara yang akan dialami
lantaran cinta itu, dan
menggambarkan keindahan
sebenarnya dengan melupakan
cinta itu.

3]. Cinta yang mubah.
Cinta yang tiba-tiba datang,
seperti mencintai wanita
cantik yang sifatnya dikatakan
kepadanya, atau dilihat dengan
tak sengaja, lalu hati pun
tertambat padanya. Tapi cinta
ini tak sampai menjerumuskan
dirinya hingga melakukan
maksiat dan kedurhakaan
(seperti berhubungan atau
berpacaran dengan wanita itu).
Yang ini tak menimbulkan
siksaan. Yang paling
bermanfaat adalah membuang
jauh-jauh cinta ini dan
menyibukkan diri dengan hal
yang lebih bermanfaat. Dan
juga harus menyembunyikan
perasaannya, menjaga
kehormatan dirinya, dan sabar
dalam menghadapi ujian cinta
ini. Sehingga dengannya Allah
memberinya pahala. Yang
mesti dilakukan adalah
mengganti cintanya itu dengan
kesabaran karena Allah, tidak
patuh pada bisikan nafsu dan
lebih mementingkan keridhaan
Allah dan apa yang ada di sisi-
Nya. Dari tiga bentuk cinta di
atas, dapat dipahami bahwa
seandainya bara cinta itu -yang
lahir karena keindahan wajah
seorang wanita mampu
dipendam (bahkan diredam),
dan tidak melanjutkannya pada
tahapan yang melanggar
syariat (seperti pacaran),
kemudian bersabar dan
memohon ketabahan kepada
Allah, dan lebih memilih
keridhaan Allah walau harus
bertarung dengan perasaan
sendiri, maka ini yang
dibolehkan. Dan satu hal yang
tak boleh terlupakan bagi
seorang muslim, bahwa Allah
tak mungkin menyianyiakan
hamba-Nya yang lebih memilih
cinta dan kasih sayang-Nya,
meski harus merelakan sang
kekasih menjadi milik orang
lain. Mungkin dengan ujian
cinta dan sikap kita yang
seperti itu (lebih memilih
keridhaan Allah), Allah ingin
kita menjadi hamba pilihan
yang kelak akan merasakan
indahnya bersanding dengan
bidadari nan menawan di
jannah-Nya. Andaikan memilih
bentuk cinta kedua, maka ini
yang disebutkan Imam Ibnul
Qayyim, bahwa permulaannya
suatu yang ringan dan manis.
Pertengahannya kekhawatiran,
kesibukan hati dan siksaan.
Dan kesudahannya adalah
kebinasaan dan kematian.
Adapun bentuk cinta yang
ketiga, maka obatnya hanya
dua.
Pertama berpuasa dan
menyibukkan diri pada hal yang
mampu menjauhkan pikiran ke
arah “sana”, dan jika puasa
sudah tak bisa untuk meredam
gejolak cinta itu, maka tak ada
jalan lain lagi selain yang
kedua yakni menikah.
“Menikah dengan wanita yang
dicintai merupakan obat cinta
yang paling mujarab, yang
dijadikan Allah sebagai
penawar yang sejalan dengan
ketetapan syariat,” demikian
Ibnul Qayyim meyakinkan.
Cinta Tertinggi Hanya untuk
Allah dan Rasul-Nya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wasallam
bersabda, “Ada tiga perkara
apabila terdapat pada diri
seseorang, maka dia akan
merasakan manisnya iman. Ia
menjadikan Allah dan Rasul-
Nya lebih dicintainya daripada
selain keduanya, ia mencintai
seseorang hanya karena Allah,
ia sangat benci kembali pada
kekufuran sebagaimana ia
benci dicampakkan ke dalam
api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, jika kita mencintai
seseorang, usahakan jangan
sampai melebihi cinta kita
pada Allah dan Rasul-Nya, agar
cinta kita tidak
menggelincirkan
diri kita
dalam dosa

taufik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s