HIKMAH BURUNG HUD-HUD NABI SULAIMAN AS

[ HIKMAH BURUNG HUD-HUD NABI SULAIMAN AS ]
Syaikh Muhammad Razaq Sathur

“Mengapa aku tidak melihat hud-hud?…” (An Naml: 20) Ketika melakukan inspeksi pasukan, Nabi Sulaiman tidak melihat burung hud-hud, sehingga beliau menanyakannya kepada anggota pasukan yang lain. Ini adalah pertanda betapa Sulaiman amat memperhatikan semua rakyatnya, meski dari golongan papa sekalipun. Burung hud-hud adalah burung kecil yang hampir tak kelihatan di antara lautan rakyat beliau. Apalah lagi kerajaannya meliputi alam manusia, jin dan hewan. Subhanallah.

Sungguh amat jauh berbeda dengan kondisi para penguasa sekarang. Ada orang yang baru diberi wewenang untuk menye-lenggarakan kontrak kerja sebuah proyek. Ia cuman membawahi sekian ratus pekerja dengan devisi pekerjaan masing-masing. Mungkin -dan ini kebanyakan terjadi- orang yang diberi kuasa tersebut tidak mengetahui sama sekali perihal orang-orang yang dipimpinnya, apatah lagi kesulitan-kesulitan yang dialami masing-masing karyawan.

Ada orang yang diberi amanat untuk mengembangkan suatu metode pengajaran. Dengan tidak mengetahui dan memeriksa terlebih dahulu sistem pengajaran Islam, mereka serta merta menuduh bahwa materi-materi keislaman tak lagi relevan bagi kemajuan zaman, maka ia harus ditinggal-kan atau maksimal diberikan dengan waktu yang amat singkat. Akhirnya orang tua atau keluarga -yang nota bene banyak belum me-mahami Islam- dibebani untuk memberikan pendidikan Islam. Hasilnya pasti bisa ditebak. Anak-anak menjadi liar, jauh dari agama dan menghalalkan segala cara.

Ada yang serta merta menuduh bahwa orang-orang yang berusaha menjalankan Islam secara sempurna sebagai ekstrimis, fundamentalis dan berbagai tuduhan lain yang menyudutkan. Atas dasar apa mereka menilai orang-orang yang berusaha lurus itu sebagai para ekstrimis atau fundamentalis? Sudahkah diteliti secara benar? Betulkah dalam menilai tidak disertai unsur dengki dan benci? Berapa banyak korban -baik secara kejiwaan atau nyawa- dari tuduhan yang keliru itu? Tidakkah lebih baik bagi para penguasa untuk selalu memperhatikan dan mengayomi rakyat, daripada menyebar-kan tuduhan dan mata-mata di banyak tempat? Adapun Nabi Sulaiman, beliau menegaskan kepeduliannya kepada rakyat kecil dengan mengatakan: “Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud?” “Apakah dia termasuk yang tidak hadir?” (An Naml: 20)

Nabi Sulaiman tidak memutuskan suatu hukum kecuali berdasarkan ilmu dan bukti nyata. Beliau tak langsung menvonis, tapi terlebih dulu menanyakan keberadaan hud-hud. Mungkin pandangan beliau yang kurang jeli atau terhalang sesuatu sehingga tidak melihatnya atau bisa jadi burung itu terkena musibah sehingga berhalangan hadir. Agar tak menghukumi sesuatu secara gegabah itulah, maka beliau menanyakannya terlebih dahulu.

Betapa pada saat ini kita sangat membutuhkan tabayyun (kejelasan masalah) sebelum memutuskan suatu hukum. Lihatlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika beliau yang pada saat itu sedang khutbah melihat Sulaik Al Ghathfani yang langsung duduk saat menghadiri Jum’at. Nabi bertanya:”Hai Sulaik, sudahkah anda Shalat?” Nabi tidak langsung menvonis tetapi beliau bertanya terlebih dahulu. Sebab siapa tahu sahabat tersebut telah shalat di tempat lain kemudian mendekat untuk lebih jelas mendengar khutbah. Baru setelah ia menjawab, “belum Ya Rasul,” maka Nabi memerintahkannya: “Berdiri dan shalatlah dua rakaat.” (HR. Muslim)

Ucapannya: “Sungguh aku benar-benar akan menyiksanya dengan siksa yang keras, atau menyembelihnya kecuali jika benar-benar ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.” (An Naml: 21)

Ucapan di atas menunjukkan ketegasan terhadap para tentara. Tentara yang melanggar perlu mendapatkan hukuman setimpal atau dimaafkan jika memang mempunyai alasan yang bisa diterima. Seorang pemimpin tidak boleh gegabah memberi keputusan kecuali setelah mendapat keyakinan tentang hakekat masalah yang sedang dihadapi.

Nabi Sulaiman mengancam hud-hud yang tidak hadir. Tetapi tidak dengan keputusan akhir sebelum beliau sendiri mendengar alasannya. “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud),” (An Naml: 22) (Hud-hud) berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.” (An Naml: 22)

Ucapan di atas menegaskan kebatilan Rafidhah yang berpendapat bahwasanya imam mengetahui segala sesuatu dan tidak seorang pun yang sezaman dengannya lebih tahu dari padanya. Juga membatalkan kepercayaan para sufi yang berpendapat bahwa para guru mereka mengetahui hal-hal yang gaib. Tidak seorang pun tahu akan hal-hal yang gaib kecuali Allah semata. “Katakanlah: “Tiada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan akan dibangkitkan?” (An Naml: 65)

Seorang Nabi Sulaiman pun tidak mengetahui kerajaan Saba’, padahal kerajaan itu cukup dekat. Hal yang sama juga dialami oleh nabi Ya’kub. Beliau tidak mengetahui di mana tempat Nabi Yusuf, puteranya tercinta yang dibuang oleh para saudaranya. Demikian pula Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau tidak mengetahui kabar langit tentang fitnah keji yang menimpa Aisyah isteri tercinta, sehingga terpaksa beliau memulangkannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, orang tuanya.

Jika para rasul dan nabi Allah tidak mengetahui masail ghaibiyah, apalah lagi dengan orang biasa lainnya. Hal ini sebagai motivasi agar makhluk tidak bergantung kepada makhluk lainnya. Mereka seyogyanya mengembalikan semua persoalan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sebuah teladan yang indah ketika hud-hud yang mungil, dengan tegas mengatakan kepada Nabi Sulaiman: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.” Dan Nabi Sulaiman pun tidak mengingkari ucapan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s