Keimanan Dalam Cinta

★★ KEIMANAN DALAM CINTA ★★

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu bercerita bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata:
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia belum dapat bertemu dengan mereka.?”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
“Seseorang akan bersama orang yang dicintai.”
(HR. Imam Muslim)

Cinta adalah ikatan yang indah dari jiwa yang senantiasa mendamba kebersamaan. Demikian pula dengan cinta dari seseorang yang belum pernah berjumpa dengan orang yang dicintainya. Kelak dalam kehidupan yang seluruh jiwa tak lagi mengenal sementara, maka cinta yang sekian lama terpisah oleh jarak, yang dipupuk dengan kerinduan yang tak pernah pupus, akan bersama dalam kebahagiaan yang sesungguhnya.

Demikianlah cinta, dimana orang yang mencintai akan berusaha memberikan yang terbaik kepada orang yang dicintainya karena sangat berhasrat orang yang dicintainya akan membalas cintanya.

Bagi seorang muslim, sangatlah penting untuk menumbuh kembangkan rasa cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan senantiasa memupuk kerinduan kepada Rasulullah. Hal ini tiada lain agar kelak kita dapat bersama dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di Syurga Allah.
Allâhumma aâmîin.

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkisah bahwa ada seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hari kiamat:
“Kapankah kiamat datang?”
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Arab Badui itu menjawab:
“Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, tapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian Rasulullah shaalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.”

Dalam sebuah hadist yang meriwayatkan dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”
Maka Rasulullah bersabda:
“Demi jiwaku yang berada di tangan Allah, (tidak benar) sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri”.
Kemudian Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, berkata:
“Wahai Rasulullah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
Rasulullah bersabda:
“Sekarang (baru benar) wahai Umar.”
(HR. Al-Bukhari).

Apabila seorang mencintai Allah, ia tentu akan mencintai apa yang Allah cintai. Ketika Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang shaleh, maka kita pun harus mencintai mereka. Melalui sikap mahabbah, seseorang akan mendapatkan manisnya keimanan tatkala terkumpul padanya kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Allah Suhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu.”
(QS. Al-Imran :31)

Tanda-tanda kecintaan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan cara Rasulullah dalam berkata-kata, perbuatan, ketaatan atas perintah-Nya, menghindari segala larangan-Nya, serta mengadopsi sikap Rasulullah  dalam bersyukur dan bersabar.

Seseorang yang mencintai Allah senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Ny a bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab :56)

Setiap kekasih senantiasa rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Maka, tanda-tanda kecintaan kepada Rasulullah termasuk kerinduan yang amat mendalam untuk bertemu dengan Sang kekasih Allah. Mereka yang mencintai Rasulullah saw akan senantiasa memuji dan menghormati setiap kali nama Nabi saw disebutkan dan kemudian menunjukkan kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia mendengar nama Nabi Muhammad.

Ya Allah, Jadikanlah kebaikan kepada kami sekeluarga, serta kepada segenap kaum muslimin. Segala puji hanya bagi-Mu ya Allah, dan shalawat semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad, kepada keluarganya yang suci, para sahabat, pewaris, serta seluruh pengikutnya yang setia dan jujur mengikuti ajarannya hingga ke akhir zaman.

Maka, cukuplah Allah menjadi penolong dan pemberi kenikmatan kepada kami.

Aamiin Ya Robbal alamiin

Akhirulkalam..
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

★★ ★★ ★★ ★★ ★★ ★★

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s